BOBOTOH & JAK MANIA, BUTUH BERAPA NYAWA LAGI ?


Rivalitas antara suporter di Indonesia memang cukup mengerikan, apalagi jika membahas antara Bobotoh dan Jak mania. Kedua suporter dengan ke fanatikan yang cukup tinggi membuat rivalitas kedua suporter ini tak bisa dituliskan dengan kata kata. Sampai dimana rivalitas kedua suporter ini menimbulkan kriminalitas dan sampai nyawa sebagai taruhannya. Dan apa sepak bola lebih berharga dari pada nyawa seseorang ? jika memang demikian maka saya selaku suporter setuju jika Indonesia tanpa sepak bola. Dan mau sampai kapan sepak bola harus terus memakan korban jiwa, apa nyawa seseorang tak lebih berharga dibandingkan dengan satu pertandingan. sampai kapan nyawa dibayar nyawa, darah dibayar darah ?, rivalitas boleh namun tak harus membenci dan membunuh. Tak ada satu kemenangan yang sebanding dengan nyawa seseorang. Menjadi suporter bukan mencari siapa yang paling jago dan hebat tapi siapa yang paling memberikan kontribusi terhadap klub yang di dukung. Suporter menyemangati bukan malah saling membunuh dengan unsur dendam semata. Sepak bola bukan ritual yang memakan korban, sepak bola alat pemersatu bukan pemecah belah. Saya seorang suporter namun saya mengutuk keras kriminalitas dalam dunia Sepak bola. Sudah terlalu banyak nyawa yang hilang sia-sia hanya karena sepak bola. Dendam lama yang menjadi penyebab utama, dan mau sampai kapan menyimpan dendam, sampai berapa nyawa lagi.
Ya di Indonesia memang masih buta akan fanatisme hingga akhirnya saling bunuh. Ketika berkaca kepada kultur suporter eropa yang terkenal akan Hooligan nya yang keras, saat dua kelompok suporter memiliki rivalitas maka kedua kelompok suporter tadi akan melakukan Open Fight. Jadi Open Fight itu dimana dua kelompok suporter yang memiliki rivalitas mengambil minimal 20 orang untuk berkelahi menyelesaikan rivalitas itu dan dalam perkelahian itu ada peraturan yang harus di taati yaitu ketika lawan sudah terkapar atau terjatuh maka pihak lain tak bisa memukulnya dan ketika sudah selesai kedua suporter itu wajib berjabat tangan dan suporter yang menang biasanya akan melakukan stolen flag yaitu membalikan bendera lawan sebagai tanda bahwa lawan sudah kalah dalam open fight. Dan jika memang kultur seperti itu diterapkan di Indonesia apa akan menghilangkan pembunuhan ?. mungkin saja tidak karena pola pikir suporter Indonesia masih mengedepankan kriminalitas. Dan di Indonrsia tak perlu adanya open fight, cukup dengan menghilangkan dendam dan kebencian terhadap suporter lain.
Pesan saya sebagai suporter ayolah kita berdamai agar ketika kita away atau bertandang ke kandang rival bisa menonton dengan tenang tanpa adanya kerusuhan. Suporter boleh dan memang harus ada rivalitas namun jika rivalitas itu mengorbankan nyawa seseorang maka tak harus dibenarkan. Ingat setiap orang punya keluarga dirumah dan kita selaku suporter tak berhak menyabut nyawa seseorang hanya karena rivalitas saja. Rivalitas boleh namun tak harus membenci dan seharusnya ketika diluar lapangan kita saling berjabat tangan. Terima kasih semoga kejadian kemarin di GBLA itu menjadi yang terakhir menimbulkan korban jiwa. Salam suporter Indonesia

Komentar

Postingan Populer